Posted by: nirzanova on: May 21, 2008
Seperti biasa jam 7 petang di rumah itu terasa begitu hening. Nyala lampu 5 watt samar samar menembus celah dijendela. Rumah ini bukan jauh dari pemukiman tapi pemukiman inilah yang jauh dari keramaian. Pemukiman ini bernama Desa Ku. Jam 7 bukanlah waktu untuk berada diluar rumah lagi,pada saat seperti ini adalah waktu untuk berkumpul dengan keluarga. Semuanya asyik berkumpul didepan televisi yang terletak di tengah tengah ruangan, dekat dengan pintu depan. Disebelah utara ruangan ini dipasang Televisi 14 inch hasil dari jerih payah I Bapa *. Inipun tak dibayar lunas. I Bapa harus mencicilnya 5 kali untuk mendapatkan tv berwarna ini. Tak jauh dari tempat diletakkan tv,disebelah baratnya terdapat dua kamar yang menghadap ke timur. Kamar ini berderet dari utara ke selatan. Kamar yang disebelah utara adalah kamar tempatku tidur. Lebih tepatnya lagi kamar tempat aku,mbah*,dan adik perempuanku tidur. Tempat tidurnya tidak terlalu besar dengan alas kasur yang tipis hasil pemberian kerabat.Dikamar yang satunya lagi adalah tempat tidur untuk orangtuaku beserta dua adik lelakiku.
Memang sekitar 6 bulan yang lalu, I Meme* melahirkan bayi lagi. Seorang bayi laki laki yang dinamai Gede. Anak ke empat tapi tidak dipanggil Ketut*.Orangtuaku lebih senang memanggilnya Gede. Kehadiran Gede tak dapat ditolak orangtuaku tapi begitu berat untuk menerimanya. Dengan keadaan ekonomi seperti sekarang ini, apakah orangtuaku bisa menghidupi empat anak? Mereka hanya punya sedikit sawah yang sebagian sudah dialihkan untuk berkebun. Sedangkan meme sudah tidak bisa bekerja lagi. Entah penyakit apa yang dideritanya. Kakinya sudah tidak kuat untuk menopang berat tubuhnya,maka ia akan berjalan seperti kehilangan keseimbangan. Dengan keadaan seperti itu untung saja meme bisa melahirkan bayi lagi.Huh, kehamilannya baru diketahui saat berusia 6 bulan karena meme sudah tidak pakai KB* lagi katanya tidak punya uang untuk ke bidan.
Apa yang dapat aku lakukan untuk keluarga ini? Mataku memang sedang menonton tv tapi pikiranku entah melayang kemana. Sesaat kulihat tubuh bapa sudah tidak sekekar dulu lagi,perut itu ceking dan kulitnya hitam. Wajah itu sedih,lesu dan tidak nampak seusianya. Wajah itu nampak lebih tua dari sebenarnya. Sementara meme semakin parah. Selain kaki yang tidak kuat,matanya juga mulai rabun padahal umurnya juga belum terlalu tua. Mbahku, apa yang dilakukannya?? Dia sedang mejejaitan*, membuat lis*.Mungkin ada yang memesan untuk sarana banten*. Mbah minta upah sukarela. Kadang dikasi lima ribu atau sepuluh ribu untuk satu lis. Mbahku memang sudah tua. Mbah pernah cerita,dia sudah bajang* saat jepang menduduki Bali.Mungkin umurnya kira kira sudah 80 tahunan sekarang. Tubuhnya kurus tapi masih kuat untuk seusianya.
Sementara aku dan dua adikku masih bersekolah. Aku masih duduk dibangku SMA,adik adikku duduk dikelas 6 SD dan kelas 4 SD.Biasanya kami membantu kerabat dan tetangga untuk bekerja. Kadang disuruh nyuci baju,atau bantu pekerjaan rumah tangga lainnya.Uang yang kami dapat kami gunakan untuk uang jajan dan kalau ada sisa biasanya dipakai untuk beli buku. Uang sekolah masih ditanggung bapa. Ya Tuhan sampai kapan kami seperti ini? (bersambung)
Untuk yang ga ngerti bahasa Bali:
*Bapa = Bapak
*Meme = Ibu
*Ketut = panggilan untuk anak ke empat dalam susunan keluarga di Bali
* Mbah = Nenek
* Bajang = lajang ( belum menikah )
* Lis = salash satu saran pelengkap banten biasanya digunakan untuk upacara tertentu
* Mejejaitan = kegiatan saat merangkai dan membentuk daun kelapa sesuai kebutuhan
* Banten = sarana pelengkap sembahyang / upacara.
*KB = Arti sebenarnya adalah Keluarga Berencana. Sering disalah gunakan, KB yang dimaksud dalam masyarakat adalah alat kontrasepsi bukan sebuah singkatan lagi.
May 22, 2008 at 2:52 am
*KB = Arti sebenarnya adalah Keluarga Berencana. Sering disalah gunakan, KB yang dimaksud dalam masyarkat adalah alat kontrasepsi bukan sebuah singkatan lagi.
*kira2 apa singkatan lainnya yah?
mbok ntar tiyang tunggu kisah selanjutnya…alna kisah ini ndak terlalu jauh dengan kisah hidup tiyang
*[sory kalo manggil mbok, karena kita sama2 orang bali ndak pa2 kan?