Posted by: nirzanova on: May 25, 2008
Gemericik pancuran ternyata telah berhasil menculik pikiranku untuk dibawa kedunia lamunan.Didepan pancuran ini aku bisa termangu ber jam jam. Bukan karena tidak ada pekerjaan tapi karena otak ini tidak bisa berhenti untuk berpikir. Pancuran ini masih kepunyaan bapa karena letaknya dalam wilayah kebun bapa.Aku bisa dengan leluasa dipancuran. Tiap hari setelah mengumpulkan kayu bakar aku pasti mandi di pancuran.Entah kenapa aku lebih suka mandi disana daripada kamar mandiku dirumah.Mandi dirumah dalam kotak 1 x 1,5 mtr yang dilapisi semen . Dalam ruangan kecil itu, terdapat closet jongkok,sebuah ember besar untuk menampung air dari keran dan sebuah gayung untuk mengambil air. Sedangkan aku bisa bergerak bebas di pancuran.
Sejak pertemuanku dengan asih dalam tiap detik waktu yang kujalani terasa begitu lama. Ajakan untuk bekerja ke ibukota terus mengiang ditelingaku. Siang itu aku bertemu dengan asih dalam angkutan desa yang penuh sesak,sebagian besar adalah anak sepertiku dengan seragam putih abu abu. Hampir aku tak mengenali wajahnya, kulitnya lebih bersih dari yang dulu,wajahnya lebih terawat.
” Eh,Putu Rini? ” sapanya
” Nggih,niki asih nggih?” tanyaku ( ini asih ya? )
” Nggih, enken kabare jani? Nu masuk SMA tu ?.”jawabnya lagi ( ya,gimana kabarnya sekarang? Masih SMA ya? Dari obrolan di angkutan desa itulah akhirnya dia menawarkan pekerjaan untukku. Apa aku harus meninggalkan bangku pendidikan hanya untuk bekerja membantu orang tuaku? Saat ini aku masih kelas dua SMA,sangat sayang kalau berhenti ditengah jalan. Namun jika aku lanjutkan,tidak akan ada yang merubah nasib keluargaku. Semuanya tidak akan berubah,rumah,orangtua dan adik adikku tetap akan berada dalam ketidak mampuan. Apakah nanti setelah lulus SMA akan ada peluang lagi?Huuuuhh, aku menarik nafas panjang dan mengeluarkannya lagi berharap dadaku tidak terlalu sesak. Sesak karena berada dalam kebimbangan, berada dalam suatu pilihan untuk menentukan langkah hidup yang baru.
Kayu bakar aku letakkan didalam sebuah kotak persegi panjang disebelah tungku api, bapa membuatkannya sengaja untuk menyimpan kayu bakar. Betuknya seperti kandang ayam kecil tapi tidak beratap. Keempat penopang ditiap sudutnya terbuat dari batang bambu kering. Segera aku mengambil gelas kaca yang sudah nampak buram dan menuangkan air dari kendi tanah liat yang diletakkan begitu saja diatas meja. Aahh, air ini begitu segar, air yang selalu menyisakan kesejukan apabila dahaga menyerangku. Di kamar segera kuganti baju yang sedari tadi membungkus badanku. Bau keringat rupanya sudah menyatu dengan serat kain,walaupun sudah terbiasa tapi aku harus mencucinya dan segera menjemurnya agar bisa dipake esok hari. Karena tidak banyak baju yang kumiliki, aku harus pintar pintar memakai baju. Jika tidak,aku tak akan punya baju apabila ada tugas sekolah yang harus kukerjakan bersama teman kelompokku.
Hawa dingin mulai menyusupi kulit, sore hari pun sudah terlewatkan. Malam ini kunikmati dengan segelas air cang*, dan dua potong ketela rebus. Ini sudah cukup bagiku,nasi sisa tadi siang sengaja kuberikan untuk adik adikku.
Malam ini aku ingin bapa tau keinginanku bekerja ke kota. Sangat sulit dan butuh keberanian untuk mengatakannya. Karena aku tau Bapaku bukanlah orang kampung biasa,dia pernah mengenyam bangku SMA. Tak tau karena apa Bapa tidak memanfaatkan pendidikan yang didapatnya. Kenapa dia memilih hidup di kampung bergelut dengan tanah dan kotoran daripada mencari pekerjaan yang lebih layak dikota. Seandainya Bapa mencari kerja dikota mungkin hidup keluarga kami tak seperti ini. Ya, aku harus mengatakannya sekarang. Kalau bukan sekarang kapan lagi??
Ne Bin Bedik :
* Cang = ( ga tau bhs Indo nya apa ) yang jelas didaerahku kayu ini biasanya mengeluarkan warna merah bila diseduh dengan air panas. Tinggal potong sedikit,taruh di gelas, seduh lalu twiing…merah deh airnya.
May 26, 2008 at 10:12 am
“Malam ini aku ingin bapa tau keinginanku bekerja ke kota. Sangat sulit dan butuh keberanian untuk mengatakannya.”
* memang butuh keberanian saat kita ingin mewujudkan cita2 kita…