Nirzanova’s Weblog

Inginku III ( Tamat )

Posted by: nirzanova on: July 22, 2008

Aku tak sanggup menegakkan wajahku untuk melihat ekspresi wajah bapa. Oh, mengapa ini begitu sulit? Perlahan kutatap matanya karena dari mata itu setidaknya aku mendapat sedikit jawaban dari keinginanku. Namun mata itu redup, terlihat lesu dan menampakkan kekecewaan. Ini bukan jawaban yang aku inginkan,yang aku inginkan adalah semangat kuat dari matanya. Apakah ini pertanda kalau keinginanku ditolak??

Aku masih terduduk diam diatas kursi kayu menunggu jawaban Bapa.

” Kalau kamu ingin bekerja di kota, Bapa ingin tahu kira kira pekerjaan apa yang bisa kamu ambil?” akhirnya sebuah kalimat terlontar untukku.

” Aku ingin bekerja apa saja yang bisa menghasilkan uang. Aku ingin merubah nasib kita.” jawabku

” Bapa pernah bekerja di kota tapi hanya untuk sementara saja, karena kota yang kamu kenal dari penuturan orang hanyalah sebagian kecil dari siapa dan apa sebenarnya kota itu. Kota tak seindah yang kita bayangkan, kalau tidak ada bekal dan keahlian, mau jadi apa disana? Sekolahmu itu diselesaikan dulu, Bapa yakin kelak jika pergi ke kota, kamu akan merindukan saat saat berada di desa. Walaupun hidup sangat berkecukupan bahkan hampir kekurangan tapi Bapa bahagia karena masih mempunyai keluarga dekat dan secuil tanah peninggalan orang tua.” tambahnya

Diam..

Aku terdiam mendengar ucapan Bapa, ternyata benar niat untuk mengadu nasib di kota benar benar ditolak.

Lama aku termenung, otakkku ini berpikir. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Harapan untuk bekerja di kota pupus sudah. Tapi apa aku harus hidup seperti ini terus menerus?? Yah, bagaimanapun nasehat orang tua harus aku dengarkan. Masih dengan berbagai macam pikiran aku menuju kamar untuk memejamkan mata ini, dengan harapan besok pagi aku mendapatkan semangatku lagi.

Pagi ini seperti biasa hari hari yang aku lalui tidak banyak berubah. Bangun tidur, menyapu lantai dan memasak didapur,setelah itu berangkat ke sekolah. Hampir rutinitas ini tidak pernah berubah, selalu dari waktu ke waktu. Tapi siang itu sepulang dari sekolah aku menemukan celah untuk menghasilkan uang. Ya, uang. Uang untuk membeli beras, minyak,baju baru dan makanan lain. Tak sabar rasanya untuk segera tiba dirumah.

Sesampainya dirumah segera aku ke kebun tentu hal ini tak biasa karena biasanya aku ke kebun dengan malas tanpa ada semangat tapi kali ini berbeda. Hati ini cerah bagiakan terangnya langit biru tanpa awan sedikitpun. Entah kenapa pikiran, hati dan tubuhku kini berjalan beriringan. Biasanya mereka berlawanan.

Dengan cepat aku mengumpulkan kayu bakar, ya tidak cuma satu ikat saja tapi aku mengumpulkan 4 ikat kayu bakar sekaligus. “Kenapa tidak dari dulu saja aku punya ide ini?” pikirku

Hari ini aku bisa menghasilkan uang untuk membantu ekonomi keluarga. Kayu bakar itu aku jual 4.000 rupiah per ikatnya. Ikatan biasa biasa saja, tidak terlalu besar. Kayu bakar itu aku kumpulkan dari batang pohon kopi yang sudah mengering. Memang cukup banyak batang dan cabang pohon kopi yang sudah mengering dan ternyata bisa dijual. Senangnya, hari ini aku bisa mengumpulkan 16.000 dalam waktu 5 jam. Kuberikan dua lembar uang lima ribuan itu kepada Meme, karena uang itu bisa digunakan untuk membeli kebutuhan di dapur. Dua ribu untuk bekal adik adikku yang masih duduk di bangku SD dan sisanya untukku.

Sejak saat itu, aku punya penghasilan sendiri. Dengan penghasilan ini aku bisa membantu Bapa. Ternyata didesa pun bisa menghasilkan uang. Tapi keinginan hati ini untuk mengadu nasib di kota masih ada dan pasti akan terwujud. Yang terpenting sekarang aku bisa bersekolah sekaligus menghasilkan uang.

Begitulah hari yang aku jalani sampai saat ini.Kelak jika aku lulus SMA dan tabunganku sudah mencukupi. Aku akan menaklukan kota impian ku, tanpa melupakan desa ini.

Tags:

Leave a Reply

Kalender Umum

July 2008
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Lembar per Lembar

Dipilih..dipilih…

RSS Pojok Berita : Liputan6

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.